• BEKAL UNTUK ANAK/SISWA DARI ORANGTUA DAN GURU



     Keprihatinan terhadap moral generasi muda saat ini, tidak hanya menjadi pemikiran dan kekhawatiran dari kalangan pendidik saja, namun kalangan masyarakat juga memiliki kekhawatiran yang sama. Sebab, belakangan ini kerap terjadi perilaku negatif anak seusia SMP dan SMA yang melakukan tindakan negatif didalam dan luar sekolah, pendidikan moral bagi anak seharusnya memang dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian sekolah dan dalam pergaulan. Sebab, pengaruh negatif yang terjadi dalam keluarga seringkali menjadi pemicu perilaku anak diluar.“Seharusnya dalam rumah tangga, dalam hal ini orang tualah yang pertama kali memberikan bekal moral yang baik bagi putra-putrinya, sehingga mereka merasa dibimbing, dikasihi dan diayomi. Dan yang tidak kalah pentingnya bekal keimanan yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini,”ujar KH. Khairul Amin.Sedangkan di Sekolah maupun Pondok Pesantren tetap memiliki tanggung jawab membina moral anak untuk lebih baik. Misalnya, jika ada tanda-tanda anak memiliki kebiasaan kurang penurut, harus mendapat perhatian khusus bagaimana anak diasah memiliki kebiasaan patuh terhadap guru maupun pengasuh.Sebab, jika hal kecil seperti itu tetap dibiarkan, akan tumbuh sikap pembangkangan pada diri anak. Ironisnya, apabila mereka mencari pergaulan diluar yang bisa menerima sikap dia sebagai anak yang tidak mau menjadi penurut. Cara pelarian seperti inilah yang kemudian secara perlahan dapat merubah perilakunya menjadi kriminal.KH. Khairul Amin mencontohkan, perilaku anak yang tidak memiliki bekal imam yang kuat, mulai melakukan hal-hal negatif, seperti mencuri milik temannya, berkelahi dan sebagainya. Bahkan, anak SMA yang kadang tawuran atau sampai membunuh teman seusianya, seperti perilaku kriminal orang dewasa. Jadi, sejak dini perilaku anak harus terpantau, agar tidak berkembang lebih buruk.
    Anak adalah titipan bagi setiap orangtua yang suatu saat akan diambil kembali oleh Penitip-nya. Kemudian Sang Penitip akan meminta pertanggungjawaban atas titipannya tersebut. Sang Penitip akan menginterogasi mengenai titipan tersebut, apakah ia telah dijaga dengan sebaik-baiknya, apakah ia telah diberikan segala sesuatu yang terbaik, dan sebagainya.
    Itulah sebabnya mengapa baik-buruknya anak merupakan tanggungjawab yang diemban oleh setiap orangtua. Dan orangtua punakhirnya berkewajiban untuk senantiasa memperhatikan anak-anak mereka. Paling tidak, beberapa hal yang harus mereka perhatikan dari anak-anak mereka adalah sebagai berikut:
    1.   Aqidah
    Pondasi utama yang harus didirikan oleh orangtua bagi anak mereka adalah pondasi aqidah. Dengan pondasi aqidah inilah maka seorang anak akan tumbuh dan berkembang dalam koridor yang aman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pondasi ini di antaranya adalah mencarikan lingkungan dan teman yang baik, memperhatikan kegiatan yang dilakukan sang anak, dan senantiasa memberikan arahan-arahan yang positif bagi anak.
    Ajarkan anak untuk mengenal Sang Khalik melalui pendidikan agama. Kemudian ajarkan anak mengenai bagaimana beribadah kepada Sang Khalik dan apa saja yang menjadi perintah atau larangan Sang Khalik.
    Bekal aqidah yang benar akan membawa si anak tetap berada pada koridor yang benar dalam setiap langkah kehidupannya.
    2.   Moral
    Bekal selanjutnya yang juga harus diperjuangkan oleh setiap orangtua untuk anak mereka adalah bekal moral. Karena anak adalah tanggung jawab orangtua, maka perkara moral sang anak pun menjadi salah satu tanggung jawab setiap orangtua. Baik buruknya moral si anak merupakan gambaran bagaimana didikan orangtua mereka. Baik buruknya moral si anak akan berbicara apakah orangtua mereka telah memberikan bekal moral dengan sebaik-baiknya atau tidak.
    Sebagai orangtua yang bermoral dan bertanggung jawab, tentunya tidak akan membiarkan sang anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang amoral atau bermoral bejat.
    Tanamkan kepada anak mengenai kewajiban untuk senantiasa berkata jujur, senantiasa menjaga dan memperhatikan lisan mereka. Bekali anak-anak dengan pendidikan moral yang sebaik-baiknya agar kelak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berkhlak mulia.
    3.   Mental dan Intelektual
    Orangtua senantiasa menuntun anak-anak mereka agar senantiasa menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan akal mereka.
    Kenalkan dan jelaskan kepada si anak mengenai apa-apa saja yang dapat menjadi sumber penyebab rusaknya jiwa dan akal manusia sehingga mereka dapat menjaga diri dan menghindarkan diri dari beberapa hal yang menjadi sumber perusak tersebut. Anak akan dapat mengantisipasi faktor-faktor perusak yang telah dijelaskan tersebut sejak dini.
    Suguhi anak dengan bacaan-bacaan atau tontonnan yang bekualitas, yang tidak hanya mengandung unsur kesenangan (terlebih lagi unsur yang bersifat merusak), tetapi juga mengandung unsur pendidikan.
    Jika anak telah mengetahui faktor-faktor yang dapat merusak mental dan akalnya, kemudian mereka dapat menghindarinya sejak dini, maka mereka pun pada akhirnya akan lebih mudah untuk dapat terus meningkatkan dan mengembangkan kualitas mental dan intelektualnya.
    4.   Jasmani (Fisik)
    Yang sudah pasti tidak boleh dilupakan oleh orangtua adalah memberikan nafkah jasmani bagi anak-anak mereka. Dan yang perlu ditekankan di sini adalah, bahwa nafkah jasmani tidak hanya sebatas pada nafkah dalam bentuk makanan, minuman, dan atau pakaian semata, tetapi juga olah jasmani atau olah raga.
    Jangan pernah lupa untuk mengajarkan anak agar senantiasa membiasakan diri dengan olah raga. Karena olah raga merupakan salah satu hak jasmani yang harus diberikan bagi tubuh atau fisik setiap manusia.
    Ajarkan pula kepada anak-anak mengenai hal-hal yang dapat merusak fisik atau jasmani mereka, kemudian tekankan kepada mereka untuk senantiasa menghindarinya.
    5.   Kejiwaan (Psikologis)
    Setiap orangtua hendaknya menanamkan sifat percaya diri dan mandiri kepada si anak sejak dini, sehingga mereka tidak akan memiliki sifat malu, minder, atau manja yang berlebihan yang akan menyulitkan si anak untuk membaur dalam lingkungan, terlebih lagi dalam lingkungan yang baru.
    Selain itu, orangtua juga harus senantiasa memperhatikan sifat-sifat negatif anak (misalnya sifat egois, pemarah, dan lain-lain). Kemudian orangtua harus senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengikis sifat negatif tersebut dari kejiwaan si anak, tentunya dengan kesabaran dan ketekunan.
    6.   Hubungan Sosial
    Yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua harus mengajarkan kepada anak-anak mereka mengenai tata cara hidup bermasyarakat, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk homogen yang tidka dapat hidup sendiri. Biasakan anak-anak untuk membaur dan bersosialisai dengan teman-teman mereka dan lignkungan sekitar.
    7.   Rohani
    Jangan pernah melupakan bimbingan rohani bagi anak-anak. Karena keadaan rohani seseorang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas kejiwaan, mental, dan fisik mereka.

0 Coment:

Poskan Komentar